Seorang pembunuh yang ingin berubah menjadi baik pun dirahmati Allah tekad jihadnya

By Dana Anwari. Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati hamba-Nya. Setiap keinginan kita untuk berubah menjadi orang yang lebih baik dalam mematuhi kebenaran firman-Nya dan keteladanan nabi-Nya, Nabi Muhammad saw, sungguh dihargai-Nya.

Insya Allah, surga-Nya menanti kita bila kita ikhlas berjihad di jalan-Nya yang lurus dan terang. Bukannya berjihad demi kehormatan diri, kesenangan diri atau demi menyandang citra kepahlawanan. Tetapi ikhlas berjihad demi keagungan agama-Nya yang sempurna, agama tauhid yang telah disempurnakannya bagi umat Nabi Muhammad saw: Islam.

Simaklah hadis Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan Abu Said Al-Khudri ra, dicatat dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim (1581): Bahwa Nabi saw. bersabda: Di antara umat sebelum kamu sekalian terdapat seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Lalu dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling berilmu, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang pendeta.
Dia pun mendatangi pendeta tersebut dan mengatakan, bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah tobatnya akan diterima?
Pendeta itu menjawab: Tidak!
Lalu dibunuhnyalah pendeta itu sehingga melengkapi seratus pembunuhan.


Kemudian dia bertanya lagi tentang penduduk bumi yang paling berilmu lalu ditunjukkan kepada seorang alim yang segera dikatakan kepadanya bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, apakah tobatnya akan diterima?
Orang alim itu menjawab: Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi tobat seseorang! Pergilah ke negeri Anu dan Anu karena di sana terdapat kaum yang selalu beribadah kepada Allah lalu sembahlah Allah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu itu negeri yang penuh dengan kejahatan!
Orang itu pun lalu berangkat, sampai ketika ia telah mencapai setengah perjalanan datanglah maut menjemputnya.
Berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab mengenainya. Malaikat rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertobat dan menghadap sepenuh hati kepada Allah.
Malaikat azab berkata: Dia belum pernah melakukan satu perbuatan baik pun.
Lalu datanglah seorang malaikat yang menjelma sebagai manusia menghampiri mereka yang segera mereka angkat sebagai penengah. Ia berkata: Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke negeri mana ia lebih dekat, maka ia menjadi miliknya.
Lalu mereka pun mengukurnya dan mendapatkan orang itu lebih dekat ke negeri yang akan dituju sehingga diambillah ia oleh malaikat rahmat.


Bagaimana dengan Hitler yang membunuh ratusan orang? Bagaimana pula dengan para penguasa yang membunuh orang di masa kekuasaannya? Dan bagaimana juga nasib penjahat yang membunuh karena kesenangan, terpaksa, atau balas dendam?
Sekali lagi, Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati setiap hamba-Nya. Apakah para pembunuh atau orang yang terpaksa membunuh itu memang sudah berniat untuk bertobat dan kembali ke jalan-Nya? Tidak perlu orang lain yang tahu tekad baik mereka, cukup Tuhan saja. Karena Allah, Tuhan kita, adalah seadil-adilnya makhluk. Dialah Dzat Yang Maha Adil. Keadilan manusia belum tentu sama dengan keadilan Allah.
Mau tahu bagaimana keadilan Allah? Simaklah dari Al Quran dan Hadis Rasulullah saw.

http://suksesberubah.blogspot.com
*
Read more…

Mantapkan niat dan wujudkan tekad di tahun yang baru


By Dana Anwari. Selamat Tahun Baru. Semoga di tahun baru kita sungguh-sungguh hijrah dan berubah untuk menjadi lebih baik dari tahun lalu. Semoga kita menjadi lebih berpegang kepada petunjuk Allah sehingga hidup kita menjadi lebih baik.

Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyah. Selamat Tahun Baru 2009. Mantapkanlah semua niat baik di dalam jiwa. Aktivitas hidup kita tergantung dari niat yang kita rencanakan kala menyongsong fajar baru setiap kali terbit matahari.
Bila kita ingin bertambah imannya, insya Allah iman kita akan dikuatkan-Nya.
Bila kita ingin bertambah rezekinya, insya Allah rezeki kita ditambahi-Nya bila kita tiada lupa bersyukur kepada-Nya.
Bila kita ingin mendapat jodoh, insya Allah kita akan dipertemukan dengan jodoh kita bila kita patuh mengikuti petunjuk-Nya.
Bila kita ingin bertambah ilmunya, insya Allah kita akan bertambah pandai bila kita mengamalkan ilmu uang sudah kita kuasai sebagaimana dimaui Allah.
Bila kita ingin bahagia, insya Allah kita akan dibahagiakan-Nya bila kita semakin tunduk pasrah kepada "tiada Tuhan selain Allah".
Bila kita ingin sukses, insya Allah kita akan dijadikan-Nya sukses dengan limpahan keberuntungan yang bersumber dari Allah. Tentunya bila kita patuhi perintah-Nya dan kita jauhi larangan-Nya. Amin.

Simaklah sabda Rasulullah yang diriwayatkan Saidina Umar bin al-Khattab r.a dalam Kitab Hadis Imam Bukhari dan Muslim: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat. Sesungguhnya setiap orang itu akan mendapat sesuatu mengikut niatnya. Sesiapa yang berhijrah kerana Allah dan RasulNya, maka Hijrahnya itu kerana Allah dan RasulNya. Sesiapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia dia akan mendapatkannya atau kerana seorang perempuan yang ingin dikahwininya maka Hijrahnya itu mengikut apa yang diniatkannya.
http://suksesberubah.blogspot.com
*
Read more…

"Yes, we can!" Sungguh yakinkah kita mampu mengubah kesusahan menjadi kesenangan?


By Dana Anwari. Kita diuji dengan kesusahan agar diri kita berubah menjadi senang. Lalu bila kita diuji dengan kesenangan, apakah kita harus mengubahnya menjadi kesusahan?
Semuanya tergantung diri kita. Bila kita tidak siap berubah menjadi orang sukses yang diberkati dengan keberuntungan-Nya, maka kesenangan hidup yang sedang kita nikmati dapat berakhir dengan kesusahan.

Kita tidak cukup hanya berniat melakukan perubahan. Kita tidak cukup hanya berteriak, "Ye, we can!" Tetapi kita harus melakukan perubahan juga dengan perbuatan. Niat dan kata-kata saja tidak cukup tanpa aktivitas untuk berubah.

Sesungguhnya, ujian kesusahan dan kesenangan yang datang silih berganti merupakan pertanyaan bagi jiwa kita: "Apakah kita selalu siap berubah menjadi lebih sukses dengan keberuntungan-Nya?"
Bagaimana caranya agar selalu meningkat kesuksesan kita?
Bagaimana caranya agar setiap kesuksesan hidup yang kita raih adalah kesuksesan yang diberkahi-Nya?

Simaklah pelajaran dari Nabi kita, Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh pembantunya yang rajin mencatat sabda dan perilaku Rasulullah saw, Abu Hurairah ra, dicatat dalam Kitab Shahih Bukhari:
Rasulullah saw. bersabda: Ada tiga orang dari bani Israil yang masing-masingnya berpenyakit lepra, gundul, dan buta. Tuhan hendak menguji, lalu mengutus malaikat menemui mereka.

Malaikat datang lebih dulu kepada yang berpenyakit lepra. Kata malaikat, “Apakah sesuatu yang paling kamu sukai?” Jawabnya, “Warna yang bagus dan kulit yang bagus! Orang banyak telah jijik melihatku!” Malaikat itu mengusapnya, lalu hilanglah penyakitnya. Kemudian diberi warna yang bagus dan kulit yang bagus.
Kata malaikat, “Apakah harta yang paling kamu sukai?” Jawabnya, “Unta!” Lalu ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan. Kata malaikat, “Kamu akan diberi keberkatan.”

Kemudian malaikat datang kepada orang yang gundul seraya berkata, “Apakah sesuatu yang paling kamu sukai?” Katanya, “Rambut yang bagus, dan gundul ini hilang dariku, karena banyak orang telah jijik melihatku.” Malaikat itu lalu mengusapnya, maka hilanglah gundulnya dan ia diberi rambut yang bagus.
Kata malaikat, “Apakah harta yang paling kamu sukai?” Katanya, “Lembu!” Malaikat itu lalu memberinya seekor lembu yang bunting, seraya berkata, “Kamu akan diberi keberkatan.”

Kemudian malaikat itu datang pula kepada orang yang buta seraya berkata, “Apakah sesuatu yang paling kamu suka?” Jawabnya, “Mudah-mudahan Tuhan mengembalikan penglihatanku, supaya dapat melihat manusia.” Malaikat pun mengusapnya. Tuhan mengembalikan penglihatannya.
Kata malaikat, “Apakah harta yang paling engkau sukai?” Jawabnya, “Kambing!” Malaikat pun lalu memberinya kambing yang bunting.

Sesudah itu, beranaklah unta dan lembu, dan kambing beranak pula. Maka orang-orang itu mempunyai lembah yang dipenuhi unta, lembah yang dipenuhi lembu, dan lembah yang dipenuhi kambing. Kemudian datanglah malaikat yang dulu kepada orang yang tadinya berpenyakit lepra dalam rupa dan keadaan (menyedihkan), seraya berkata, “Saya ini seorang laki-laki yang miskin yang telah melintasi bukit dalam perjalanan. Maka pada hari ini tiadalah yang menyampaikan melainkan Tuhan. Kemudian saya datang kepada kamu untuk meminta atas nama Tuhan yang telah memberi kamu dengan warna yang bagus dan harta berupa unta, agar kamu sudi mencukupkan belanja dalam perjalananku.”
Kata orang itu, “Kewajiban-kewajiban yang lain masih banyak!”
Malaikat berkata, “Seakan-akan saya telah mengenal kamu. Bukankah kamu dulunya berpenyakit lepra dan banyak orang jijik melihatmu, lagi miskin. Tetapi kemudian Tuhan memberi kebaikan dan kekayaan kepadamu?”
Kata orang itu, “Harta ini saya warisi dari bapak dan nenek saya.”
Kata malaikat, “Kalau kamu dusta, Tuhan akan menjadikan kamu sebagaimana keadaan kamu dulunya!”

Dan kemudian malaikat itu, dengan rupa dan keadaan menyedihkan, datang kepada orang yang dulunya gundul. Lalu dikatakannya pula sebagaimana perkataan kepada yang lepra tadi. Orang itu pun menjawab sebagai jawaban orang itu pula.
Malaikat lalu berkata, “Kalau kamu dusta Tuhan akan menjadikan kamu sebagaimana keadaan kamu dulu.”

Dan kemudian ia, dengan rupa yang menyedihkan, datang kepada orang yang dulunya buta seraya berkata, “Saya ini seorang laki-laki miskin dan telah melintasi bukit dalam perjalananku. Maka hari ini tiada yang akan menyampaikan melainkan Tuhan. Saya datang kepada kamu untuk meminta dengan nama Tuhan yang telah memberi penglihatan dan kambing kepadamu untuk mencukupkan perbekalanku dalam perjalananku.”
Kata orang itu, “Saya dulunya buta. Tuhan lalu mengembalikan penglihatanku. Dulunya saya miskin dan Tuhan telah membuatku kaya. Sebab itu, ambillah sesukamu! Demi Allah! Hari ini saya tiada akan mencegah kamu mengambilnya karena Allah, berapa saja.”
Kata malaikat, “Peganglah hartamu! Sesungguhnya kamu diuji. Tuhan telah rela kepada kamu dan marah kepada dua orang kawanmu.”

suksesberubah.blogspot.com
*
Read more…

Belum berhasilnya kita berubah menjadi baik karena godaan setan masih belum bisa kita lawan

By Dana Anwari. Bila kita belum juga berhasil berubah menjadi baik, bukan karena Tuhan sedang menguji kita. Tetapi karena setan sedang bertambah semangatnya mengganggu kita agar diri kita tidak menjadi lebih beriman dan bertakwa.
Jadi jangan salahkan Allah. Salah satu sifat baik Allah (asmaul husna) adalah al-Quddus (The Holy/Allah Maha Suci). Terlalu suci Allah untuk disalahkan karena diri kita belum juga berubah menjadi orang baik: beriman dan bertakwa.

Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan. (QS Yasin:83)
Allah itu Maha Suci. Pengetahuan-Nya terhindar dari keteledoran. Kepemilikan-Nya terhindar dari kemungkinan untuk disamai atau direbut tuhan yang lain. Kehendak-Nya terhindar dari tidak memiliki hikmah dan manfaat.

Marilah menyadarinya sehingga kita bisa memahami firman-Nya: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS Al Baqarah:32)
"Glory to Thee, of knowledge We have none, save what Thou Hast taught us: In truth it is Thou Who art perfect in knowledge and wisdom."

Allah mau membantu kita berubah menjadi lebih baik bila kita mau menjadi orang yang dimaui-Nya untuk berubah menjadi baik.

Profesi penyanyi itu mengandalkan keindahan vokalnya. Apakah menyanyi harus bergaya seronok agar bisa mendapatkan banyak rezeki? Apakah bila menyanyi tanpa pose seronok lalu Allah akan memberi penyanyi itu rezeki yang sedikit? Tentu tidak, bukan?

Apakah berdagang harus dengan menipu agar bisa mendapatkan untung? Apakah bila berdagang tanpa menipu lalu Allah tidak akan memberikan keberuntungan-Nya? Tentu tidak! Ataukah Anda akan menjawab: "Tidak tentu!"


Allah akan membuka pintu hati kita untuk menerima ajaran agama-Nya yang lurus bila kita ingin berubah diri menjadi lebih beriman dan bertakwa kepada jalan-Nya yang lurus.
Bila kita merasa beriman dan bertakwa tetapi bukan kepada jalan agama-Nya yang lurus, apakah kita sudah melakukan perbuatan yang dikehendaki-Nya?
Bila kita saja tidak berkehendak menjadi seperti yang dimaui-Nya, bagaimana Tuhan bisa menyukai kita untuk membukakan pintu hidayah agama-Nya di dalam hati kita?
Lalu, masihkah kita menyalahkan Allah, padahal hidup kita yang berantakan diakibatkan ketidak-mampuan kita melawan godaan setan yang selalu mengajak kepada jalan yang bengkok?

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. (QS Al Anam:100)
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS Yunus:18)
Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah; ia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS Yunus:68)
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS Az Zumar:67) Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. (QS Al A’la:1)

Cobalah mau memahami mau-Nya Allah dalam Al Quran. Agar hidup kita tidak berantakan. Agar hidup kita yang sesungguhnya "penuh keburukan" dan terlihat "penuh kebaikan" di mata kita menjadi terbuka tabirnya: bahwa yang selama ini kita anggap baik ternyata salah akibat setan membutakan mata hati kita.
suksesberubah.blogspot.com
*
Read more…

Apakah menjadi manusia modern harus dengan melupakan Allah dan menafikkan kebenaran-Nya?


By Dana Anwari.
Pernah kucoba untuk melupakan Kamu
dalam setiap renunganku
lupakan semua yang Kau goreskan
pada telapak tanganku
Dan juga kucoba untuk meyakinkan pikiranku
bahwa sebenarnya Engkau tak pernah ada
bahwa bumi dan isinya ini tercipta karena memang harus tercipta
Bahwa Adam dan Hawa tiba-tiba saja turun
tanpa karena makan buah kuldi racun
Dan aku lahir juga bukan karena campur tangan-Mu
hanya karena ibu memang sudah seharusnya melahirkanku
hanya karena ibu memang sudah seharusnya melahirkanku
Tetapi apa yang kurasakan kemudian
hidup seperti tak berarti lagi
Dan ternyata bahwa hanya kasih sayangMu
yang mampu membimbing tanganku
o yang mampu membimbing tanganku
Tuhan maafkanlah atas kelancanganku
mencoba meninggalkan-Mu
Sekarang datanglah Engkau bersama angin
agar setiap waktu aku bisa menikmati kasih-Mu
agar setiap waktu aku bisa menikmati kasih-Mu




Puisi yang dinyanyikan seniman Indonesia Ebiet G. Ade di atas mungkin tepat untuk menggambarkan kesombongan manusia terhadap Zat Yang Maha Menciptakannya. Akibat rasa percaya dirinya yang terlalu besar atas kemampuan akal, pikiran dan nalurinya, lalu manusia menafikan kehadiran Allah.

Dengan potensi akal, hati, naluri serta kekuatan tubuhnya, manusia merasa yakin akan bisa mencapai kesuksesan yang diidamkannya. Manusia yang merasa modern --yang melihat agama-Nya sebagai cerita masa lalu yang kuno-- menjalani usaha dan perjuangan hidupnya di dunia ini untuk satu tujuan: kesenangan hidup yang damai.

Mereka penuhi naluri lapar, seksual, dan naluri berhias mereka dengan memeras otak dan berpeluh keringat agar jiwa mereka menjadi senang. Dan untuk membuat hati menjadi damai, mereka hindari permusuhan atau berusaha memenangkan permusuhan dengan segala kekuatan sehingga mereka merasa damai karena merasa tidak ada lagi kekuatan yang bisa mengancamnya.

Mereka saling berbagi ilmu sebab-akibat demi mencapai kesenangan hidup semata. Bila malas bekerja maka akibatnya miskin, dan bila rajin maka menjadi kaya. Bila mudah menyerah dan berputus asa, maka tidak akan berhasil meraih kesuksesan. Waktu adalah uang, maka jangan sia-siakan waktu untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Karena “uang itu sangat berkuasa” maka jadilah pemilik uang yang bisa berkuasa atas orang-orang lain dan memperbudaknya.

Mereka tidak mengenal dosa, karena mereka menafikan ajaran agama tentang dosa dan pahala. Pahala yang ada diangan-angan mereka adalah semata-mata hanya kesenangan dengan mengenyampingkan kebenaran dari Tuhannya: Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu.
Padahal Allah berfirman dalam surat An Nisa aat 123: (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.

Akibatnya, segala cara mereka tempuh untuk mencari uang. Dengan uang mereka berkuasa. Dengan kekuasaan itu mereka merasa bisa meraup sebanyak-banyaknya kesenangan hidup. Hubungan sosial pun mereka ukur dengan uang. Tujuannya agar diri mereka tidak merasa terganggu.
Mereka memberikan sumbangan sosial agar lingkungannya tidak mengganggu mereka. Dan untuk menghindari musuh yang bisa merusak kedamaian hidupnya, mereka membayar ahli bela diri untuk menjaga ketenteraman hidup mereka.

Mereka sungguh-sungguh telah berpaling dari Allah Yang Maha Kuasa. Dan Allah pun bukannya tidak peduli kepada mereka. Dengan kasih sayang-Nya, terkadang Allah menimpakan suatu perisitiwa kehidupan yang dahsyat dalam hidup mereka. Suatu musibah yang tidak bisa mereka hindari dengan uang yang mereka miliki dan kekuatan kekuasaan yang mereka dambakan.

Ketika Allah murka, mereka mengalami suatu bencana yang tidak bisa lagi akal mereka memikirkan penyebabnya dan memikirkan cara mencegah serta menghindarinya. Dan pada saat itulah, hati mereka yang selama ini hanya dipenuhi dengan rasa cinta kepada harta, syahwat, dan tahta hingga kotor berdebu akan tercuci oleh air mata kesedihan penderitaan yang luar biasa. Lalu terbersitlah bahwa ada kekuatan lain Yang Maha Berkuasa, yakni Allah Yang Maha Esa dan Tunggal.
Semoga Allah Yang Maha Bijaksana masih memberikan waktu kepada kita untuk berubah!
suksesberubah.blogspot.com
*
Read more…

Mengupayakan takdir lebih baik dari yang lalu dengan evaluasi, adaptasi, dan peningkatan kinerja

By Dana Anwari. Tidak ada kemapanan. Tidak ada kata cukup. Karena, kita masih bisa berbuat dan meraih sesuatu yang lebih baik dalam segala hal yang positif. Kita mesti terus berusaha menjadi sempurna kendati tahu kesempurnaan tak pernah akan bisa dicapai di dunia ini. Kesempurnaan hanya didapat di akhirat.

Kita tidak pernah puas. Sesuatu yang kita capai menjadi relatif. Ukuran kesuksesan dalam persepsi kebenaran kita selalu berubah menjadi kurang dan harus ditambah lagi.

Kita senantiasa tidak ingin takdir kehidupan yang menimpa hidup kita adalah nasib yang buruk. Dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita petakan hukum sebab-akibat. Bahwa takdir (akibat) pintar diperoleh (sebab) tekun belajar. Bahwa akibat kaya sebab berhemat. Bahwa akibat miskin sebab malas bekerja. Bahwa akibat bodoh sebab malas menggunakan pendengaran dan penglihatan. Bahwa akibat menjadi orang beriman disebabkan terjaganya kesucian hati menerima kehadiran Tuhan. Dan lain sebagainya.

Namun, itu adalah kebenaran relatif. Kebenaran manusia tidak berlaku pada Tuhan. Meskipun iklim dan arah angin diprediksi dengan ilmu pengetahuan manusia akan menyebabkan hujan di suatu tempat, tetapi Tuhan bisa berkehendak lain di tempat itu. Bisa saja Tuhan menjadikannya hanya mendung saja, tetapi bisa menjadi terik matahari kemarau atau bahkan gempa bumi. Tuhan Maha Berkuasa. Terkadang Dia tampakkan Kemaha-Kuasaan-Nya agar kita makin mengenal "tiada Tuhan selain Allah".

Pelajaran dari peristiwa itu adalah bahwa ilmu pengetahuan Tuhan tidak bisa disetarakan dengan ilmu pengetahuan manusia. Kebenaran wahyu Tuhan tidak bisa diimbangi dengan kebenaran hasil akal budi manusia. Ilmu sebab-akibat manusia -- baik yang berupa hasil pengamatan dan adaptasi atas alam semesta beserta isinya maupun yang berupa penafsiran wahyu Allah -- hanyalah atau baru sebagian kecil kebenaran ilmu sebab-akibat Tuhan.

Kebenaran hasil akal budi manusia yang didasarkan kepada pengamatannya atas alam semesta beserta isinya terus berubah seiring dengan ditemukannya kebenaran-kebenaran baru. Sementara kebenaran wahyu Tuhan adalah suatu kebenaran yang pasti dan tidak pernah berubah, hakiki dan abadi. Perubahannya hanya kepada persepsi manusia dalam upaya menafsirkan dan menjabarkan kebenaran-Nya dalam hidup dan kehidupannya.

Apa arti dari semua itu? Tuhan menghendaki perubahan. Tuhan menghendaki manusia berhijrah (change) untuk semakin mendekat kepada "tiada Tuhan selain Allah".

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Baqarah:218)

Tuhan menghendaki manusia senantiasa berubah menjadi lebih baik, lebih takwa kepada-Nya. Mematuhi perintah-Nya tidak cuma dengan akal, tetapi juga dengan hatinya. Menjauhi larangan-Nya tidak cuma dengan mencari-cari argumentasi yang masuk akal, tapi tidak berargumentasi dengan hatinya.

Tuhan menghendaki manusia berusaha sempurna di antara kelemahannya. Dan usaha untuk berubah menjadi sempurna (atau menjadi lebih baik) itu akan dicatat malaikat, dilaporkan ke Tuhan dan Tuhanpun memberikan pahala (balasan) nya.
Pahala-Nya yang diberikan di dunia akan langsung kita rasakan sesuai hasil usaha kita; kadang ada yang tertunda karena masih belum sempurnanya kinerja kita memahami kebenaran-Nya.

Tertundanya keinginan mendapat pahala baik (atas usaha yang dirasa sudah baik) kerapkali menimbulkan penafsiran salah terhadap takdir Tuhan yang tidak bisa kita lawan. Akibatnya, melahirkan fatalisme atau sikap mental negatif karena mengandung semangat untuk menyerah kalah kepada nasib. Padahal ilmu Tuhan mengajarkan sifat dan sikap rendah hati untuk mengatasi itu, sehingga dari situ akan didapatkan kebenaran masih kurang baiknya usaha kita.

Makanya, masihkah kita percaya bahwa sukses kita menjadi lebih baik itu tanpa ada campur tangan Tuhan di dalamnya?
Sedangkan kesempurnaan itu, hanya akan kita dapatkan di akhirat, berupa pahala (balasan) usaha kita menjadi yang terbaik dari Tuhan yang bersifat kekal, abadi, serta tak ada kata sempurna lagi di atas itu.
suksesberubah.blogspot.com
*
Read more…

Cintailah perubahan untuk selalu menjadi yang terbaik


By Dana Anwari. Kebenaran manusia itu adalah kebenaran relatif maka cintailah perubahan, karena kita harus terus berubah menjadi baik dengan mendekatkan kebenaran kita kepada kebenaran firman allah.

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(QS Az Zumar:9)

Dis: "Sont-ils égaux, ceux qui savent et ceux qui ne savent pas?" Seuls les doués d'intelligence se rappellent.

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.(QS Yunus:36)

Und die meisten von ihnen folgen bloß einer Vermutung; doch eine Vermutung nützt nichts gegenüber der Wahrheit. Siehe, Allah weiß recht wohl, was sie tun.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS At Taghabuun:11)

No calamity befalls, but by the Leave (i.e. Decision and Qadar (Divine Preordainments)) of Allâh, and whosoever believes in Allâh, He guides his heart (to the true Faith with certainty, i.e. what has befallen him was already written for him by Allâh from the Qadar (Divine Preordainments)). And Allâh is the All-Knower of everything.
suksesberubah.blogspot.com
*
Read more…