Apakah menjadi manusia modern harus dengan melupakan Allah dan menafikkan kebenaran-Nya?


By Dana Anwari.
Pernah kucoba untuk melupakan Kamu
dalam setiap renunganku
lupakan semua yang Kau goreskan
pada telapak tanganku
Dan juga kucoba untuk meyakinkan pikiranku
bahwa sebenarnya Engkau tak pernah ada
bahwa bumi dan isinya ini tercipta karena memang harus tercipta
Bahwa Adam dan Hawa tiba-tiba saja turun
tanpa karena makan buah kuldi racun
Dan aku lahir juga bukan karena campur tangan-Mu
hanya karena ibu memang sudah seharusnya melahirkanku
hanya karena ibu memang sudah seharusnya melahirkanku
Tetapi apa yang kurasakan kemudian
hidup seperti tak berarti lagi
Dan ternyata bahwa hanya kasih sayangMu
yang mampu membimbing tanganku
o yang mampu membimbing tanganku
Tuhan maafkanlah atas kelancanganku
mencoba meninggalkan-Mu
Sekarang datanglah Engkau bersama angin
agar setiap waktu aku bisa menikmati kasih-Mu
agar setiap waktu aku bisa menikmati kasih-Mu




Puisi yang dinyanyikan seniman Indonesia Ebiet G. Ade di atas mungkin tepat untuk menggambarkan kesombongan manusia terhadap Zat Yang Maha Menciptakannya. Akibat rasa percaya dirinya yang terlalu besar atas kemampuan akal, pikiran dan nalurinya, lalu manusia menafikan kehadiran Allah.

Dengan potensi akal, hati, naluri serta kekuatan tubuhnya, manusia merasa yakin akan bisa mencapai kesuksesan yang diidamkannya. Manusia yang merasa modern --yang melihat agama-Nya sebagai cerita masa lalu yang kuno-- menjalani usaha dan perjuangan hidupnya di dunia ini untuk satu tujuan: kesenangan hidup yang damai.

Mereka penuhi naluri lapar, seksual, dan naluri berhias mereka dengan memeras otak dan berpeluh keringat agar jiwa mereka menjadi senang. Dan untuk membuat hati menjadi damai, mereka hindari permusuhan atau berusaha memenangkan permusuhan dengan segala kekuatan sehingga mereka merasa damai karena merasa tidak ada lagi kekuatan yang bisa mengancamnya.

Mereka saling berbagi ilmu sebab-akibat demi mencapai kesenangan hidup semata. Bila malas bekerja maka akibatnya miskin, dan bila rajin maka menjadi kaya. Bila mudah menyerah dan berputus asa, maka tidak akan berhasil meraih kesuksesan. Waktu adalah uang, maka jangan sia-siakan waktu untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Karena “uang itu sangat berkuasa” maka jadilah pemilik uang yang bisa berkuasa atas orang-orang lain dan memperbudaknya.

Mereka tidak mengenal dosa, karena mereka menafikan ajaran agama tentang dosa dan pahala. Pahala yang ada diangan-angan mereka adalah semata-mata hanya kesenangan dengan mengenyampingkan kebenaran dari Tuhannya: Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu.
Padahal Allah berfirman dalam surat An Nisa aat 123: (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.

Akibatnya, segala cara mereka tempuh untuk mencari uang. Dengan uang mereka berkuasa. Dengan kekuasaan itu mereka merasa bisa meraup sebanyak-banyaknya kesenangan hidup. Hubungan sosial pun mereka ukur dengan uang. Tujuannya agar diri mereka tidak merasa terganggu.
Mereka memberikan sumbangan sosial agar lingkungannya tidak mengganggu mereka. Dan untuk menghindari musuh yang bisa merusak kedamaian hidupnya, mereka membayar ahli bela diri untuk menjaga ketenteraman hidup mereka.

Mereka sungguh-sungguh telah berpaling dari Allah Yang Maha Kuasa. Dan Allah pun bukannya tidak peduli kepada mereka. Dengan kasih sayang-Nya, terkadang Allah menimpakan suatu perisitiwa kehidupan yang dahsyat dalam hidup mereka. Suatu musibah yang tidak bisa mereka hindari dengan uang yang mereka miliki dan kekuatan kekuasaan yang mereka dambakan.

Ketika Allah murka, mereka mengalami suatu bencana yang tidak bisa lagi akal mereka memikirkan penyebabnya dan memikirkan cara mencegah serta menghindarinya. Dan pada saat itulah, hati mereka yang selama ini hanya dipenuhi dengan rasa cinta kepada harta, syahwat, dan tahta hingga kotor berdebu akan tercuci oleh air mata kesedihan penderitaan yang luar biasa. Lalu terbersitlah bahwa ada kekuatan lain Yang Maha Berkuasa, yakni Allah Yang Maha Esa dan Tunggal.
Semoga Allah Yang Maha Bijaksana masih memberikan waktu kepada kita untuk berubah!
suksesberubah.blogspot.com
*

No comments: