Mengupayakan takdir lebih baik dari yang lalu dengan evaluasi, adaptasi, dan peningkatan kinerja

By Dana Anwari. Tidak ada kemapanan. Tidak ada kata cukup. Karena, kita masih bisa berbuat dan meraih sesuatu yang lebih baik dalam segala hal yang positif. Kita mesti terus berusaha menjadi sempurna kendati tahu kesempurnaan tak pernah akan bisa dicapai di dunia ini. Kesempurnaan hanya didapat di akhirat.

Kita tidak pernah puas. Sesuatu yang kita capai menjadi relatif. Ukuran kesuksesan dalam persepsi kebenaran kita selalu berubah menjadi kurang dan harus ditambah lagi.

Kita senantiasa tidak ingin takdir kehidupan yang menimpa hidup kita adalah nasib yang buruk. Dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita petakan hukum sebab-akibat. Bahwa takdir (akibat) pintar diperoleh (sebab) tekun belajar. Bahwa akibat kaya sebab berhemat. Bahwa akibat miskin sebab malas bekerja. Bahwa akibat bodoh sebab malas menggunakan pendengaran dan penglihatan. Bahwa akibat menjadi orang beriman disebabkan terjaganya kesucian hati menerima kehadiran Tuhan. Dan lain sebagainya.

Namun, itu adalah kebenaran relatif. Kebenaran manusia tidak berlaku pada Tuhan. Meskipun iklim dan arah angin diprediksi dengan ilmu pengetahuan manusia akan menyebabkan hujan di suatu tempat, tetapi Tuhan bisa berkehendak lain di tempat itu. Bisa saja Tuhan menjadikannya hanya mendung saja, tetapi bisa menjadi terik matahari kemarau atau bahkan gempa bumi. Tuhan Maha Berkuasa. Terkadang Dia tampakkan Kemaha-Kuasaan-Nya agar kita makin mengenal "tiada Tuhan selain Allah".

Pelajaran dari peristiwa itu adalah bahwa ilmu pengetahuan Tuhan tidak bisa disetarakan dengan ilmu pengetahuan manusia. Kebenaran wahyu Tuhan tidak bisa diimbangi dengan kebenaran hasil akal budi manusia. Ilmu sebab-akibat manusia -- baik yang berupa hasil pengamatan dan adaptasi atas alam semesta beserta isinya maupun yang berupa penafsiran wahyu Allah -- hanyalah atau baru sebagian kecil kebenaran ilmu sebab-akibat Tuhan.

Kebenaran hasil akal budi manusia yang didasarkan kepada pengamatannya atas alam semesta beserta isinya terus berubah seiring dengan ditemukannya kebenaran-kebenaran baru. Sementara kebenaran wahyu Tuhan adalah suatu kebenaran yang pasti dan tidak pernah berubah, hakiki dan abadi. Perubahannya hanya kepada persepsi manusia dalam upaya menafsirkan dan menjabarkan kebenaran-Nya dalam hidup dan kehidupannya.

Apa arti dari semua itu? Tuhan menghendaki perubahan. Tuhan menghendaki manusia berhijrah (change) untuk semakin mendekat kepada "tiada Tuhan selain Allah".

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Baqarah:218)

Tuhan menghendaki manusia senantiasa berubah menjadi lebih baik, lebih takwa kepada-Nya. Mematuhi perintah-Nya tidak cuma dengan akal, tetapi juga dengan hatinya. Menjauhi larangan-Nya tidak cuma dengan mencari-cari argumentasi yang masuk akal, tapi tidak berargumentasi dengan hatinya.

Tuhan menghendaki manusia berusaha sempurna di antara kelemahannya. Dan usaha untuk berubah menjadi sempurna (atau menjadi lebih baik) itu akan dicatat malaikat, dilaporkan ke Tuhan dan Tuhanpun memberikan pahala (balasan) nya.
Pahala-Nya yang diberikan di dunia akan langsung kita rasakan sesuai hasil usaha kita; kadang ada yang tertunda karena masih belum sempurnanya kinerja kita memahami kebenaran-Nya.

Tertundanya keinginan mendapat pahala baik (atas usaha yang dirasa sudah baik) kerapkali menimbulkan penafsiran salah terhadap takdir Tuhan yang tidak bisa kita lawan. Akibatnya, melahirkan fatalisme atau sikap mental negatif karena mengandung semangat untuk menyerah kalah kepada nasib. Padahal ilmu Tuhan mengajarkan sifat dan sikap rendah hati untuk mengatasi itu, sehingga dari situ akan didapatkan kebenaran masih kurang baiknya usaha kita.

Makanya, masihkah kita percaya bahwa sukses kita menjadi lebih baik itu tanpa ada campur tangan Tuhan di dalamnya?
Sedangkan kesempurnaan itu, hanya akan kita dapatkan di akhirat, berupa pahala (balasan) usaha kita menjadi yang terbaik dari Tuhan yang bersifat kekal, abadi, serta tak ada kata sempurna lagi di atas itu.
suksesberubah.blogspot.com
*

No comments: