"Yes, we can!" Sungguh yakinkah kita mampu mengubah kesusahan menjadi kesenangan?


By Dana Anwari. Kita diuji dengan kesusahan agar diri kita berubah menjadi senang. Lalu bila kita diuji dengan kesenangan, apakah kita harus mengubahnya menjadi kesusahan?
Semuanya tergantung diri kita. Bila kita tidak siap berubah menjadi orang sukses yang diberkati dengan keberuntungan-Nya, maka kesenangan hidup yang sedang kita nikmati dapat berakhir dengan kesusahan.

Kita tidak cukup hanya berniat melakukan perubahan. Kita tidak cukup hanya berteriak, "Ye, we can!" Tetapi kita harus melakukan perubahan juga dengan perbuatan. Niat dan kata-kata saja tidak cukup tanpa aktivitas untuk berubah.

Sesungguhnya, ujian kesusahan dan kesenangan yang datang silih berganti merupakan pertanyaan bagi jiwa kita: "Apakah kita selalu siap berubah menjadi lebih sukses dengan keberuntungan-Nya?"
Bagaimana caranya agar selalu meningkat kesuksesan kita?
Bagaimana caranya agar setiap kesuksesan hidup yang kita raih adalah kesuksesan yang diberkahi-Nya?

Simaklah pelajaran dari Nabi kita, Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh pembantunya yang rajin mencatat sabda dan perilaku Rasulullah saw, Abu Hurairah ra, dicatat dalam Kitab Shahih Bukhari:
Rasulullah saw. bersabda: Ada tiga orang dari bani Israil yang masing-masingnya berpenyakit lepra, gundul, dan buta. Tuhan hendak menguji, lalu mengutus malaikat menemui mereka.

Malaikat datang lebih dulu kepada yang berpenyakit lepra. Kata malaikat, “Apakah sesuatu yang paling kamu sukai?” Jawabnya, “Warna yang bagus dan kulit yang bagus! Orang banyak telah jijik melihatku!” Malaikat itu mengusapnya, lalu hilanglah penyakitnya. Kemudian diberi warna yang bagus dan kulit yang bagus.
Kata malaikat, “Apakah harta yang paling kamu sukai?” Jawabnya, “Unta!” Lalu ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan. Kata malaikat, “Kamu akan diberi keberkatan.”

Kemudian malaikat datang kepada orang yang gundul seraya berkata, “Apakah sesuatu yang paling kamu sukai?” Katanya, “Rambut yang bagus, dan gundul ini hilang dariku, karena banyak orang telah jijik melihatku.” Malaikat itu lalu mengusapnya, maka hilanglah gundulnya dan ia diberi rambut yang bagus.
Kata malaikat, “Apakah harta yang paling kamu sukai?” Katanya, “Lembu!” Malaikat itu lalu memberinya seekor lembu yang bunting, seraya berkata, “Kamu akan diberi keberkatan.”

Kemudian malaikat itu datang pula kepada orang yang buta seraya berkata, “Apakah sesuatu yang paling kamu suka?” Jawabnya, “Mudah-mudahan Tuhan mengembalikan penglihatanku, supaya dapat melihat manusia.” Malaikat pun mengusapnya. Tuhan mengembalikan penglihatannya.
Kata malaikat, “Apakah harta yang paling engkau sukai?” Jawabnya, “Kambing!” Malaikat pun lalu memberinya kambing yang bunting.

Sesudah itu, beranaklah unta dan lembu, dan kambing beranak pula. Maka orang-orang itu mempunyai lembah yang dipenuhi unta, lembah yang dipenuhi lembu, dan lembah yang dipenuhi kambing. Kemudian datanglah malaikat yang dulu kepada orang yang tadinya berpenyakit lepra dalam rupa dan keadaan (menyedihkan), seraya berkata, “Saya ini seorang laki-laki yang miskin yang telah melintasi bukit dalam perjalanan. Maka pada hari ini tiadalah yang menyampaikan melainkan Tuhan. Kemudian saya datang kepada kamu untuk meminta atas nama Tuhan yang telah memberi kamu dengan warna yang bagus dan harta berupa unta, agar kamu sudi mencukupkan belanja dalam perjalananku.”
Kata orang itu, “Kewajiban-kewajiban yang lain masih banyak!”
Malaikat berkata, “Seakan-akan saya telah mengenal kamu. Bukankah kamu dulunya berpenyakit lepra dan banyak orang jijik melihatmu, lagi miskin. Tetapi kemudian Tuhan memberi kebaikan dan kekayaan kepadamu?”
Kata orang itu, “Harta ini saya warisi dari bapak dan nenek saya.”
Kata malaikat, “Kalau kamu dusta, Tuhan akan menjadikan kamu sebagaimana keadaan kamu dulunya!”

Dan kemudian malaikat itu, dengan rupa dan keadaan menyedihkan, datang kepada orang yang dulunya gundul. Lalu dikatakannya pula sebagaimana perkataan kepada yang lepra tadi. Orang itu pun menjawab sebagai jawaban orang itu pula.
Malaikat lalu berkata, “Kalau kamu dusta Tuhan akan menjadikan kamu sebagaimana keadaan kamu dulu.”

Dan kemudian ia, dengan rupa yang menyedihkan, datang kepada orang yang dulunya buta seraya berkata, “Saya ini seorang laki-laki miskin dan telah melintasi bukit dalam perjalananku. Maka hari ini tiada yang akan menyampaikan melainkan Tuhan. Saya datang kepada kamu untuk meminta dengan nama Tuhan yang telah memberi penglihatan dan kambing kepadamu untuk mencukupkan perbekalanku dalam perjalananku.”
Kata orang itu, “Saya dulunya buta. Tuhan lalu mengembalikan penglihatanku. Dulunya saya miskin dan Tuhan telah membuatku kaya. Sebab itu, ambillah sesukamu! Demi Allah! Hari ini saya tiada akan mencegah kamu mengambilnya karena Allah, berapa saja.”
Kata malaikat, “Peganglah hartamu! Sesungguhnya kamu diuji. Tuhan telah rela kepada kamu dan marah kepada dua orang kawanmu.”

suksesberubah.blogspot.com
*

No comments: